KLIKEMPATLAWANG.ID, Jakarta – Kompetisi sepak bola kasta tertinggi Indonesia, Super League 2026-2027, akan resmi bergulir pada Jumat, 4 September 2026.

Operator kompetisi, I.League, telah menetapkan jadwal pertandingan perdana untuk menandai dimulainya musim baru.

Laga pembuka Super League 2026-2027 mempertemukan Bali United dengan PSS Sleman di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Jumat (4/9/2026) malam WIB.

Sebelum laga tersebut, Arema FC dijadwalkan menghadapi Isen Mulang FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Jumat sore.

Musim 2026-2027 kembali mendapat dukungan BRI sebagai sponsor utama sekaligus titel resmi kompetisi.

Kerja sama tersebut memasuki tahun keenam sebagai bentuk dukungan BRI terhadap perkembangan sepak bola nasional.

Super League musim ini diikuti 18 klub peserta.

Kompetisi akan berlangsung selama 34 pekan dengan total 306 pertandingan.

Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, mengatakan pihaknya menargetkan peningkatan kualitas kompetisi agar sepak bola Indonesia mampu masuk dalam jajaran 10 besar liga di Asia.

“Kami terus akan meningkatkan kerja sama kami ini agar kami juga boleh mencapai target yang sudah dicanangkan untuk memasuki di ranking 10 besar di Asia,” kata Ferry Paulus dalam sambutannya di SCTV Tower, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Ferry menyebut posisi Indonesia saat ini berada di peringkat ke-20 Asia.

Ia menjelaskan bahwa peringkat sepak bola Indonesia menunjukkan perkembangan positif setelah sempat berada di posisi lebih dari 30 pasca-Tragedi Kanjuruhan pada 2022.

“Ketika pasca Kanjuruhan kita berada jauh di atas 30, terus naik ke-28, lalu ke-25, hari ini ke-20,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menilai peningkatan kualitas liga harus dibarengi dengan pembenahan kondisi klub peserta.

Menurut Erick, kompetisi yang kuat tidak akan terwujud jika klub-klub di dalamnya masih menghadapi persoalan manajemen dan finansial.

“Tak mungkin kita membangun liga tetapi klub-klubnya tidak sehat,” ujar Erick.

Erick juga menekankan pentingnya penerapan Club Licensing bagi klub yang tampil di Super League maupun Championship.

Menurutnya, standar lisensi tersebut diperlukan untuk memastikan klub memiliki kondisi finansial yang sehat dan mampu memenuhi berbagai persyaratan kompetisi.

“Club licensing yang sekarang didorong oleh Liga bersama PSSI itu yang menjadi pemerataan kekuatan,” katanya.

Erick mengingatkan klub agar tidak hanya mengejar popularitas dan kemewahan tanpa memperhatikan keberlanjutan keuangan.

Ia tidak ingin klub mengalami masalah finansial hingga akhirnya bangkrut atau kesulitan memenuhi kewajiban kepada pemain.

“Sudah banyak cerita sepak bola Indonesia klubnya bangkrut,” tuturnya.

Menurut Erick, Club Licensing tidak hanya mengatur aspek keuangan klub.

Sistem tersebut juga mencakup sejumlah aspek lain yang berkaitan dengan keberlangsungan klub dan kompetisi.

Dengan penerapan standar tersebut, Erick berharap persaingan antarklub dapat berlangsung secara lebih sehat dan seimbang.

Selain pembenahan klub, PSSI juga berkomitmen menjaga integritas pertandingan dari praktik pengaturan skor atau match fixing.

Erick meminta seluruh pihak yang terlibat dalam kompetisi untuk tidak memberikan ruang terhadap praktik tersebut.

“Nah, ini kita hati-hati Pak Sekjen (Yunus Nusi) sebagai Komisaris Utama (I.League), kalau ada ‘match fixing’ di ujung musim saya tangkap, tangkap benar loh Pak Sekjen,” tegas Erick.

Super League 2026-2027 diharapkan tidak hanya menghadirkan persaingan menarik di lapangan, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan profesionalisme klub, kesehatan finansial, dan integritas sepak bola Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *